Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Selamat Hari Jadi Kota Lamongan Ke 451 Tahun


Tidak terasa Kabupaten Lamongan umurnya sudah menginjak 451 Tahun, pada tanggal 26 Mei 2020 merupakan hari jadi Kota Lamongan. Biasanya hari jadi lamongan akan ada perayaan namun kali ini tidak karena masih ada musibah virus Corona atau Covid 19 di indonesia.

Bila tidak ada seperti musibah sekarang ini mungkin ada festival dan arak - arak di Lamongan Kota. Tapi sebelum itu kita last back ke masa lalu siapa sih pendiri Kabupaten Lamongan ?

Awal Mula Kabupaten Lamongan

Nama Lamongan berasal dari nama seorang tokoh pada masa silam. Pada zaman dulu, ada seorang pemuda bernama Hadi, karena mendapatkan pangkat rangga, maka ia disebut Ranggahadi. Ranggahadi kemudian bernama Mbah Lamong, yaitu sebutan yang diberikan oleh rakyat daerah ini. Karena Ranggahadi pandai ngemong rakyat, pandai membina daerah dan mahir menyebarkan ajaran agama Islam serta dicintai oleh seluruh rakyatnya, dari asal kata Mbah Lamong inilah kawasan ini lalu disebut Lamongan.

Adapun yang menobatkan Tumenggung Surajaya menjadi Adipati Lamongan yang pertama, tidak lain adalah Kanjeng Sunan Giri IV yang bergelar Sunan Prapen. Wisuda tersebut bertepatan dengan hari pasamuan agung yang diselenggarakan di Puri Kasunanan Giri di Gresik, yang dihadiri oleh para pembesar yang sudah masuk agama Islam dan para Sentana Agung Kasunanan Giri. Pelaksanaan Pasamuan Agung tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Besar Islam yaitu Idhul Adha tanggal 10 Dzulhijjah.

Berbeda dengan daerah-daerah Kabupaten lain khususnya di Jawa Timur yang kebanyakan mengambil sumber dari suatu prasasti, atau dari suatu Candi dan dari peninggalan sejarah yang lain, tetapi hari lahir lamongan mengambil sumber dari buku wasiat. Silsilah Kanjeng Sunan Giri yang ditulis tangan dalam huruf Jawa Kuno/Lama yang disimpan oleh Juru Kunci Makam Giri di Gresik. Almarhum Bapak Muhammad Baddawi di dalam buku tersebut ditulis, bahwa diwisudanya Tumenggung Surajaya menjadi Adipati Lamongan dilakukan dalam pasamuan agung pada tahun 976 H. Yang ditulis dalam buku wasiat tersebut memang hanya tahunnya saja, sedangkan tanggal, hari dan bulannya tidak dituliskan.

Oleh karena itu, maka Panitia Khusus Penggali Hari Jadi Lamongan mencari pembuktian sebagai dasar yang kuat guna mencari dan menetapkan tanggal, hari dan bulannya. Setelah Panitia menelusuri buku sejarah, terutama yang bersangkutan dengan Kasunanan Giri, serta Sejarah para wali dan adat istiadat di waktu itu, akhirnya Panitia menemukan bukti, bahwa adat atau tradisi kuno yang berlaku pada zaman Kasunanan Giri dan Kerajaan Islam di Jawa waktu itu, selalu melaksanakan pasamuan agung yang utama dengan memanggil menghadap para Adipati, Tumenggung serta para pembesar lainnya yang sudah memeluk agama Islam. Pasamuan Agung tersebut dilaksanakan bersamaan dengan Hari Peringatan Islam tanggal 10 Dzulhijjah yang disebut Garebeg Besar atau Idhul Adha.

Berdasarkan adat yang berlaku pada saat itu, maka Panitia menetapkan wisuda Tumenggung Surajaya menjadi Adipati Lamongan yang pertama dilakukan dalam pasamuan agung Garebeg Besar pada tanggal 10 Dzulhijjah Tahun 976 Hijriyah. Selanjutnya Panitia menelusuri jalannya tarikh hijriyah dipadukan dengan jalannya tarikh masehi, dengan berpedoman tanggal 1 Muharam Tahun 1 Hijriyah jatuh pada tanggal 16 Juni 622 Masehi, akhirnya Panitia Menemukan bahwa tanggal 10 Dzulhijjah 976 H., itu jatuh pada Hari Kamis Pahing tanggal 26 Mei 1569 M.

Dengan demikian jelas bahwa perkembangan daerah Lamongan sampai akhirnya menjadi wilayah Kabupaten Lamongan, sepenuhnya berlangsung pada zaman keislaman dengan Kasultanan Pajang sebagai pusat pemerintahan. Tetapi yang bertindak meningkatkan Kranggan Lamongan menjadi Kabupaten Lamongan serta yang mengangkat/mewisuda Surajaya menjadi Adipati Lamongan yang pertama bukanlah Sultan Pajang, melainkan Kanjeng Sunan Giri IV. Hal itu disebabkan Kanjeng Sunan Giri prihatin terhadap Kasultanan Pajang yang selalu resah dan situasi pemerintahan yang kurang mantap. Disamping itu Kanjeng Sunan Giri juga merasa prihatin dengan adanya ancaman dan ulah para pedagang asing dari Eropa yaitu orang Portugis yang ingin menguasai Nusantara khususnya Pulau Jawa.

Tumenggung Surajaya adalah Hadi yang berasal dari dusun Cancing yang sekarang termasuk wilayah Desa Sendangrejo Kecamatan Ngimbang Kabupaten Lamongan. Sejak masih muda Hadi sudah nyuwito di Kasunanan Giri dan menjadi seorang santri yang dikasihi oleh Kanjeng Sunan Giri karena sifatnya yang baik, pemuda yang trampil, cakap dan cepat menguasai ajaran agama Islam serta seluk beluk pemerintahan. Disebabkan pertimbangan itu akhirnya Sunan Giri menunjuk Hadi untuk melaksanakan perintah menyebarkan Agama Islam dan sekaligus mengatur pemerintahan dan kehidupan Rakyat di Kawasan yang terletak di sebelah barat Kasunanan Giri yang bernama Kenduruan. Untuk melaksanakan tugas berat tersebut Sunan Giri memberikan Pangkat Rangga kepada Hadi.

Ringkasnya sejarah, Rangga Hadi dengan segenap pengikutnya dengan naik perahu melalui Kali Lamong, akhirnya dapat menemukan tempat yang bernama Kenduruan itu. Adapun kawasan yang disebut Kenduruan tersebut sampai sekarang masih ada dan tetap bernama Kenduruan, berstatus Kampung di Kelurahan Sidokumpul wilayah Kecamatan Lamongan.

Di daerah baru tersebut ternyata semua usaha dan rencana Rangga Hadi dapat berjalan dengan mudah dan lancar, terutama di dalam usaha menyebarkan agama Islam, mengatur pemerintahan dan kehidupan masyarakat. Pesantren untuk menyebar Agama Islam peninggalan Rangga Hadi sampai sekarang masih ada.

Catatan: Penggali Hari Jadi Kota Lamongan adalah Bapak Trimo Sumodiwiryo. Lahir di Desa Tanjung, Lamongan, 14 April 1912 sebagai anak tunggal dari ayah bernama Ngadiman dan Ibu bernama Sarpi. Beliau seorang guru sekaligus Kepala Sekolah dari zaman Belanda, Jepang sampai kemerdekaan, yang waktu itu masih disebut sebagai Sekolah Rakyat Negeri. Mengajar di Desa Kruwul, Kecamatan Turi, 5 km ke arah barat dari kota Lamongan. Jabatan setelah itu adalah Penilik Sekolah di Sukodadi dan Sekaran (masih Kabupaten Lamongan). Ironisnya beliau wafat saat seluruh penduduk Kota Lamongan kirab, pawai, merayakan Hari Jadi Kota Lamongan yang dirayakan pertama kalinya pada bulan Mei 1984. Saat itu Bupati Kepala Daerahnya adalah Bapak Sutrisno Sudirdjo. Bapak Trimo Sumodiwiryo pada tahun sekitar 1968-an juga pernah mengikuti perlombaan membuat Lambang Kota Lamongan. Semasa hidupnya beliau mengabdikan diri pada kesenian, salah satunya adalah membaca serta menyanyi (nembang, -bahasa Jawa-). Aktif rutin mengisi acara 'nembang Macapat-an' di sebuah radio swasta di Kota Surabaya bersama beberapa seniman dari kota sekitar Surabaya. (Wikipedia)

Pariwisata Lamongan

Kota Lamongan tentu memiliki wisata menarik yang sudah populer apa aja pariwisata kota lamongan :

  • Wisata Bahari Lamongan
  • Waduk Gondang
  • Maharani Zoo
  • Istana Gunung Mas
  • Wego
  • Wisata Akar Trinil
  • Pantai Kutang Brondong
  • Waduk Prijetan
  • Gunung Suru Lembur

Wisata Sejarah

  • Wisata Musium Sunan Drajat
  • Monumen Van Der Wejick
  • Situs Sendang Gede Ngimbang
  • Candi Slumpeng Laren

Wisata Religi

  • Makam Sunan Drajat
  • Makan Sunan Sedang Duwur
  • Makam Dwi Skardadu

Makanan Khas Lamongan

Kabupaten Lamongan mempunyai bermacam-macam masakan khas, diantaranya:

  • Soto Lamongan
  • Nasi Lalapan Bebek, Ayam, Lele. Seafood
  • Nasi Boranan
  • Rujak Cingur
  • Tahu lontong/tahu tek-tek
  • Tahu campur lamongan.

Minuman

Kabupaten Lamongan mempunyai bermacam-macam minuman khas Lamongan, diantaranya:

  • Es Dawet Ental/Siwalan
  • ES Batil
  • Kopi Djawa

Oleh-oleh

Kabupaten Lamongan mempunyai bermacam-macam oleh-oleh khas Lamongan, diantaranya:

  • Wingko Babat
  • Ental
  • Jumbreg
  • Tas Enceng Gondok
  • Empeng / marneng
  • Batik Sendang Dhuwur
  • Tenun Ikat Desa Parengan
Ternyata Lamongan Sendiri Kaya akan Budaya dan Kulinernya ya, semoga lamongan lebih maju, lebih bisa berbenah, bisa merata pembangunan nya dan tentu lebih banyak lagi berprestasi.

Posting Komentar untuk "Selamat Hari Jadi Kota Lamongan Ke 451 Tahun"